RESENSI BUKU
Judul Buku                  : Throwim Way Leg : An Adventure
Pengarang                   : Tim Flannery
Penerbit                       : Text Publishing (Melbourne, Australia)
Tahun Terbit                : 1998
Jumlah Halaman          : 326 halaman
          


  Sebagai seorang ahli biologi yang mempelajari  mamalia baru, Tim Flannecy mengunjungi  Dataran Tinggi Papua Nugini dan Irian Jaya berkali-kali antara 1981-1996. Throwim Way Leg-ungkapan yang berasal dari Bahasa Tok Pisin yang berarti “pergi dalam perjalanan”- adalah catatan tentang perjalanan yang dilakukan Tim Flannery. Ada beberapa zoologi di dalamnya, dengan penemuan baru atau kelelawar langka, kanguru pohon dan spesies lain, tapi focus Flannery adalah pada interaksina dengan penduduk lokal dan perjuangannya terhadap medan yang ada di sana.
            Ia menyertakan sebuah potret dari imam katolik tua, seorang pejuang yang selamat dari era sebelumnya, tetapi Flannery menjelaskan bahwa masyarakat hanya pernah dipengaruhi oleh pemerintah atau dunia modern. Tempat tempat yang dikunjungi Flannery antara lain Gunung Albert Edrward, Yapsiei, di Lembah Telefomin, Rumah Rakyat Miyanmin; Yominbip, “ sebuah peniti dari suatu tempat tinggal di luas wilayah  Thuringwald”; Telefomin, rumah dari orang orang Telefol; Bultem, rumah bangsa Wopkaimin; Kota Pertambangan Tabubil di Pegunungan Bintang; dan pegunungan Toricelli di sepanjang Pantai Utara.
Hal ketiga terakhir dari Throwim Way Leg adalah tentang Irian Jaya, dimana Flannery mengunjungi Jayapura dan melakukan kerja di Kwiyawagi, rumah dari orang-orang Maoop, dan di pegunungan salju sekitar tambang Freeport. Awalnya dia tertarik pada Irian Jaya- lebih aman dari Papua Nugini, dan dengan lebih sedikit perbedaan ras- tetapi kecewa dengan penggunaan kekuatan oleh militer Indonesia dan kontraktor keamanan pribadi.
Flannery bukan seorang etnografer dan dia tidak menambahkan kepura-puraan apapun dalam buku Throwim Way Leg ini. Dalam kebanyakan ksus, ia menghabiskan waktu yang relatif singkat di komunitas yang ia kunjungi dan harus mengandalkan material tafsiran. Namun, ia sering kali sendiri, dan bergantung pada penduduk setempat untuk pengetahuan mereka tentang perilaku binatang dan penyediaan makanan dan tempat tinggal mereka, membuat pemahaman tentang kebiasaan dan dunia sosial mereka yang penting. Jadi dia secara praktis terlibat dengan masyarakat yang dia gambarkan. Dia tidak berperasaan seperti masyarakat lokal-kekejaman perlakuan mereka terhadap hewan mungkin hal yang paling mengejutkan- tapi dia melakukan yang terbaik yang dia bias untuk tidak menghakimi mereka secara tidak tepat.
Enam belas halaman foto berwarna menggambarkan orang-orang yang ditemui Flannery dan pemandangan menakjubkan yang ia abadikan. Throwim Way Leg adalah keterlibatan pengenalan kepada masyarakat suku pedalaman di dataran tinggi Papua Nugini.